Fasilitas dan layanan yang baik, nggak ngebuat Nurani betah di kota kelahirannya sendiri – Jakarta. Walaupun dekat sama Bundanya, tapi Nurani terbiasa jauh dari Bundanya. Ia terbiasa tinggal di Semarang, bareng saudara-saudaranya yang lain. Udah beberapa hari Nurani tinggal di Jakarta, ngelanjutin sekolahnya di sana. Perasaan jenuh, bosan, dan malas masih dominan di dalam hari-harinya. Bundanya berusaha selalu nyediain apa yang Nurani butuhkan, tapi itu nggak ngebuat ia senang. Hati dan jiwanya tetap di Semarang. Satu-satunya temannya adalah Deva, teman semasa kecilnya.
“Kenapa pindah sini?” tanya Deva saat Nurani maen ke rumahnya.
“Katanya gua dibilang bandel, makanya dipindahin ke sini,” jawab Nurani dengan nada sebal.
“Bandel gimana?”
“Sering maen. Padahal nilai gua juga nggak jelek-jelek amat walaupun sering maen,”
“Yah, namanya aja orang tua, Ran. Wajar aja, pengen yang terbaik buat anaknya. Apalagi loe kan cewek,”
“Tapi yang ngejalanin hidup kan gua,”
“Bunda loe cuman nggak mau loe kenapa-kenapa. Ambil positifnya aja, lha,”
Nurani nggak mau berdebat panjang. Mereka lalu ngobrolin topik lain sambil ngeliat kendaraan yang lalu lalang di gang rumah mereka. Gang rumah mereka agak ramai, karena termasuk jalan utama buat ke jalan raya. Saat lagi asyik-asyiknya ngobrol, ada seorang cowok yang keluar dari rumahnya dan duduk di terasnya. Rumahnya beda satu rumah dari rumah Deva. Nurani ngeliatin cowok itu.
“Ngeliatin apaan sih, Ran?” tanya Deva bingung.
“Itu Ravi kan?” tanya Nurani, tapi matanya masih ngeliatin cowok yang bernama Ravi.
“Iya, itu Mas Ravi,” jawab Deva. “Mas Ravi, sini!” panggil Deva dengan suaranya yang agak serak.
Ravi lalu menghampiri Nurani dan Deva. Ravi juga teman Nurani dan Deva waktu kecil. Mereka satu sekolah waktu TK. Nurani kaget karena Ravi beda banget. Lebih ganteng, tinggi, rambutnya kaya model Nick Carter (masih ada aja model begituan, padahal udah tahun 2003), badannya kerempeng tapi tetep ganteng, hidungnya mancung lagi.
“Ada apaan, Va?” tanya Ravi setelah duduk di dekat mereka.
“Mas Ravi masih inget Rani, nggak?” tanya Deva sambil nunjuk ke arah Nurani.
Ravi ngeliatin Nurani dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nurani jadi salah tingkah sendiri diliatin begitu.
“Oo, Rani. Masih lah!” jawab Ravi sambil senyum. “Apa kabar, Ran? Sekolah di sini ya?” tanya Ravi sambil ngulurin tangannya.
“Baik, iya sekolah di sini,” jawab Nurani sambil nyalamin Ravi.
Awal pertemuan di rumah Deva itu, ngebuat Ravi pengen deketin Nurani. Ia sering maen ke rumah Nurani yang cuman beda empat rumah. Jadi Nurani, Ravi, dan Deva adalah tetanggaan. Dan rumah Deva tepat di antara rumah Nurani dan Ravi. Nurani masih nganggep Ravi biasa aja. Tapi Ravi pengen lebih dari temenan. Ravi sering tanya, Nurani udah punya pacar atau belum. Saat itu Nurani lagi jomblo, jadi Ravi punya peluang.
Setiap Kamis malam, Nurani ikut pengajian di kampungnya bareng Deva dan remaja-remaja yang lain. Masih ada yang inget Nurani, tapi ada yang udah lupa. Nurani kebanyakan udah lupa sama nama-nama teman kecilnya, tapi masih inget mukanya.
“Va, ngapain loe ngajak orang Chinese ke sini?” tanya salah satu remaja yang ikut pengajian.
“Dia bukan Chinese, bego! Dia tuh Jawa tulen! Masa udah lupa sama dia?” tanya Deva sewot.
Deva orang Betawi asli, jadi kalo ngomong emang apa adanya dan nyeplos gitu.
“Emang siapa?”
“Dia kan Rani!”
“Masa sih, Va? Dia pindah sini ya?”
“Iya! Enak aja loe, bilang dia Chinese,”
Nurani punya badan yang nggak terlalu item dan nggak terlalu putih. Mungkin sawo matang kali ya. Rambutnya sepunggung, bibirnya tipis tapi agak menghitam karena selalu coba-coba lipstik Bundanya, pipinya chubby, tingginya cuman 152 cm. Nggak gendut banget, kata orang Jawa “memel” gitu. Matanya emang sipit, jadi banyak orang yang salah paham. Awalnya Nurani biasa aja nanggepinnya, tapi lama kelamaan ia ngerasa risih juga. Setelah pengajian selesai, Ravi udah nunggu di luar. Nurani kaget. Ia lalu deketin Ravi sambil senyum.
“Ngapain Ravi ke sini?” tanya Nurani.
“Jemput Rani lah,” jawab Ravi sambil ketawa kecil.
“Kan deket dari rumah, nggak dijemput juga nggak apa-apa kok! Biasa juga bareng sama Deva,”
“Ngga boleh ya?”
“Ya boleh-boleh aja, lagian kan juga udah sampe sini,”
“Ya udah, pulang, yuk!”
Di tengah perjalanan, Ravi nyatain perasaannya ke Nurani.
“Rani, mau nggak jadi pacar Ravi?” tanya Ravi.
Nurani yang dari tadi cuman nundukin kepala, reflek langsung nengok ke arah Ravi. Tapi nunduk lagi. Ia tersenyum. Sebenernya ia juga suka sama Ravi.
“Ravi serius?”
“Serius lah! Mau nggak? Jawab dong!”
Nurani cuman nganggukin kepalanya.
“Yes..!!” teriak Ravi.
Setelah itu, Ravi jadi sering ngajakin Nurani keluar. Nurani masih nggak berani keluar cuman berdua. Ia pun ngajak Deva. Awalnya masih biasa aja, tapi akhirnya Ravi keberatan juga. Nurani maklum, masa nge-date bertiga?
Beberapa hari berlalu, Nurani mulai nemuin kehidupannya di Jakarta. Ia udah bisa nerima keadaan kalo ia emang harus lanjutin sekolahnya di Jakarta. Saat Bunda pulang dari supermarket, Bunda manggil Nurani ke kamarnya.
“Bunda denger, kamu deket sama Ravi ya?” tanya Bunda saat Nurani duduk di tepi kasur.
“Kenapa emangnya?” Nurani balik tanya.
“Bunda nggak ngelarang kamu maen sama siapa, tapi kalo sama Ravi jangan terlalu deket. Bunda nggak suka,”
“Ada yang salah dari Ravi?”
“Ravi itu pemake, tau! Bunda nggak mau kamu salah bergaul sama dia, makanya kamu jangan terlalu deket,”
Nurani kaget. Ternyata Ravi seorang pemake. Nurani pun langsung ngebayangin Ravi. Ia baru sadar kalo ternyata ciri-ciri Ravi kayak pemake yang pernah ia liat di TV atau film. Wajahnya emang ganteng, tapi nggak ceria. Nurani pun mengiyakan keinginan Bunda lalu segera keluar dari kamar Bundanya. Ia lalu ke rumah Deva.
“Va, bener ya Ravi itu pemake?” tanya Nurani tanpa basa-basi.
“Iya,” jawab Deva pelan.
“Kenapa nggak cerita sih, Va?”
“Gua mau Mas Ravi yang cerita langsung ke loe. Dan gua pikir, mungkin loe bisa ngerubah Mas Ravi. Loe kan baik orangnya, Ran,”
“Bukan dia yang cerita, tapi Bunda gua. Gua harus tanya ke dia, kenapa dia nggak jujur sama gua,”
“Mau gua panggilin ke sini?”
Nurani ngeliatin Deva agak lama, lalu nganggukin kepalanya. Deva langsung ke rumah Ravi, sementara Nurani nunggu sambil jalan mondar-mandir karena grogi. Ini adalah konflik pertama mereka semenjak mereka jadian. Nggak pernah disangka Nurani, kalo konflik pertamanya udah seberat ini.
Ravi muncul bareng Deva di belakangnya. Ravi senyum, tapi Nurani nggak ngebales senyumnya. Ia terkesan ‘melotot’ ke arah Ravi. Deva pamit buat masuk ke rumahnya.
“Ada apa? Kok nggak sms aja? Malah nyuruh Deva manggil?”
“Rani mau tanya sama Ravi, tapi Ravi harus jawab jujur,”