Kamis, 03 Maret 2011

Cinta Rasa Asam - Part 1


Fasilitas dan layanan yang baik, nggak ngebuat Nurani betah di kota kelahirannya sendiri – Jakarta. Walaupun dekat sama Bundanya, tapi Nurani terbiasa jauh dari Bundanya. Ia terbiasa tinggal di Semarang, bareng saudara-saudaranya yang lain. Udah beberapa hari Nurani tinggal di Jakarta, ngelanjutin sekolahnya di sana. Perasaan jenuh, bosan, dan malas masih dominan di dalam hari-harinya. Bundanya berusaha selalu nyediain apa yang Nurani butuhkan, tapi itu nggak ngebuat ia senang. Hati dan jiwanya tetap di Semarang. Satu-satunya temannya adalah Deva, teman semasa kecilnya.
“Kenapa pindah sini?” tanya Deva saat Nurani maen ke rumahnya.
“Katanya gua dibilang bandel, makanya dipindahin ke sini,” jawab Nurani dengan nada sebal.
“Bandel gimana?”
“Sering maen. Padahal nilai gua juga nggak jelek-jelek amat walaupun sering maen,”
“Yah, namanya aja orang tua, Ran. Wajar aja, pengen yang terbaik buat anaknya. Apalagi loe kan cewek,”
“Tapi yang ngejalanin hidup kan gua,”
“Bunda loe cuman nggak mau loe kenapa-kenapa. Ambil positifnya aja, lha,”
Nurani nggak mau berdebat panjang. Mereka lalu ngobrolin topik lain sambil ngeliat kendaraan yang lalu lalang di gang rumah mereka. Gang rumah mereka agak ramai, karena termasuk jalan utama buat ke jalan raya. Saat lagi asyik-asyiknya ngobrol, ada seorang cowok yang keluar dari rumahnya dan duduk di terasnya. Rumahnya beda satu rumah dari rumah Deva. Nurani ngeliatin cowok itu.
“Ngeliatin apaan sih, Ran?” tanya Deva bingung.
“Itu Ravi kan?” tanya Nurani, tapi matanya masih ngeliatin cowok yang bernama Ravi.
“Iya, itu Mas Ravi,” jawab Deva. “Mas Ravi, sini!” panggil Deva dengan suaranya yang agak serak.
Ravi lalu menghampiri Nurani dan Deva. Ravi juga teman Nurani dan Deva waktu kecil. Mereka satu sekolah waktu TK. Nurani kaget karena Ravi beda banget. Lebih ganteng, tinggi, rambutnya kaya model Nick Carter (masih ada aja model begituan, padahal udah tahun 2003), badannya kerempeng tapi tetep ganteng, hidungnya mancung lagi.
“Ada apaan, Va?” tanya Ravi setelah duduk di dekat mereka.
“Mas Ravi masih inget Rani, nggak?” tanya Deva sambil nunjuk ke arah Nurani.
Ravi ngeliatin Nurani dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nurani jadi salah tingkah sendiri diliatin begitu.
“Oo, Rani. Masih lah!” jawab Ravi sambil senyum. “Apa kabar, Ran? Sekolah di sini ya?” tanya Ravi sambil ngulurin tangannya.
“Baik, iya sekolah di sini,” jawab Nurani sambil nyalamin Ravi.
Awal pertemuan di rumah Deva itu, ngebuat Ravi pengen deketin Nurani. Ia sering maen ke rumah Nurani yang cuman beda empat rumah. Jadi Nurani, Ravi, dan Deva adalah tetanggaan. Dan rumah Deva tepat di antara rumah Nurani dan Ravi. Nurani masih nganggep Ravi biasa aja. Tapi Ravi pengen lebih dari temenan. Ravi sering tanya, Nurani udah punya pacar atau belum. Saat itu Nurani lagi jomblo, jadi Ravi punya peluang.

Setiap Kamis malam, Nurani ikut pengajian di kampungnya bareng Deva dan remaja-remaja yang lain. Masih ada yang inget Nurani, tapi ada yang udah lupa. Nurani kebanyakan udah lupa sama nama-nama teman kecilnya, tapi masih inget mukanya.
“Va, ngapain loe ngajak orang Chinese ke sini?” tanya salah satu remaja yang ikut pengajian.
“Dia bukan Chinese, bego! Dia tuh Jawa tulen! Masa udah lupa sama dia?” tanya Deva sewot.
Deva orang Betawi asli, jadi kalo ngomong emang apa adanya dan nyeplos gitu.
“Emang siapa?”
“Dia kan Rani!”
“Masa sih, Va? Dia pindah sini ya?”
“Iya! Enak aja loe, bilang dia Chinese,”
Nurani punya badan yang nggak terlalu item dan nggak terlalu putih. Mungkin sawo matang kali ya. Rambutnya sepunggung, bibirnya tipis tapi agak menghitam karena selalu coba-coba lipstik Bundanya, pipinya chubby, tingginya cuman 152 cm. Nggak gendut banget, kata orang Jawa “memel” gitu. Matanya emang sipit, jadi banyak orang yang salah paham. Awalnya Nurani biasa aja nanggepinnya, tapi lama kelamaan ia ngerasa risih juga. Setelah pengajian selesai, Ravi udah nunggu di luar. Nurani kaget. Ia lalu deketin Ravi sambil senyum.
“Ngapain Ravi ke sini?” tanya Nurani.
“Jemput Rani lah,” jawab Ravi sambil ketawa kecil.
“Kan deket dari rumah, nggak dijemput juga nggak apa-apa kok! Biasa juga bareng sama Deva,”
“Ngga boleh ya?”
“Ya boleh-boleh aja, lagian kan juga udah sampe sini,”
“Ya udah, pulang, yuk!”
Di tengah perjalanan, Ravi nyatain perasaannya ke Nurani.
“Rani, mau nggak jadi pacar Ravi?” tanya Ravi.
Nurani yang dari tadi cuman nundukin kepala, reflek langsung nengok ke arah Ravi. Tapi nunduk lagi. Ia tersenyum. Sebenernya ia juga suka sama Ravi.
“Ravi serius?”
“Serius lah! Mau nggak? Jawab dong!”
Nurani cuman nganggukin kepalanya.
“Yes..!!” teriak Ravi.
Setelah itu, Ravi jadi sering ngajakin Nurani keluar. Nurani masih nggak berani keluar cuman berdua. Ia pun ngajak Deva. Awalnya masih biasa aja, tapi akhirnya Ravi keberatan juga. Nurani maklum, masa nge-date bertiga?
Beberapa hari berlalu, Nurani mulai nemuin kehidupannya di Jakarta. Ia udah bisa nerima keadaan kalo ia emang harus lanjutin sekolahnya di Jakarta. Saat Bunda pulang dari supermarket, Bunda manggil Nurani ke kamarnya.
“Bunda denger, kamu deket sama Ravi ya?” tanya Bunda saat Nurani duduk di tepi kasur.
“Kenapa emangnya?” Nurani balik tanya.
“Bunda nggak ngelarang kamu maen sama siapa, tapi kalo sama Ravi jangan terlalu deket. Bunda nggak suka,”
“Ada yang salah dari Ravi?”
“Ravi itu pemake, tau! Bunda nggak mau kamu salah bergaul sama dia, makanya kamu jangan terlalu deket,”
Nurani kaget. Ternyata Ravi seorang pemake. Nurani pun langsung ngebayangin Ravi. Ia baru sadar kalo ternyata ciri-ciri Ravi kayak pemake yang pernah ia liat di TV atau film. Wajahnya emang ganteng, tapi nggak ceria. Nurani pun mengiyakan keinginan Bunda lalu segera keluar dari kamar Bundanya. Ia lalu ke rumah Deva.
“Va, bener ya Ravi itu pemake?” tanya Nurani tanpa basa-basi.
“Iya,” jawab Deva pelan.
“Kenapa nggak cerita sih, Va?”
“Gua mau Mas Ravi yang cerita langsung ke loe. Dan gua pikir, mungkin loe bisa ngerubah Mas Ravi. Loe kan baik orangnya, Ran,”
“Bukan dia yang cerita, tapi Bunda gua. Gua harus tanya ke dia, kenapa dia nggak jujur sama gua,”
“Mau gua panggilin ke sini?”
Nurani ngeliatin Deva agak lama, lalu nganggukin kepalanya. Deva langsung ke rumah Ravi, sementara Nurani nunggu sambil jalan mondar-mandir karena grogi. Ini adalah konflik pertama mereka semenjak mereka jadian. Nggak pernah disangka Nurani, kalo konflik pertamanya udah seberat ini.
Ravi muncul bareng Deva di belakangnya. Ravi senyum, tapi Nurani nggak ngebales senyumnya. Ia terkesan ‘melotot’ ke arah Ravi. Deva pamit buat masuk ke rumahnya.
“Ada apa? Kok nggak sms aja? Malah nyuruh Deva manggil?”
“Rani mau tanya sama Ravi, tapi Ravi harus jawab jujur,”

Cinta Rasa Asam - Part 2

Ketegangan mulai terasa di antara mereka.
“Ravi seorang pemake?”
Ravi kaget ngedenger pertanyaan Nurani. Ia tau, suatu saat Nurani pasti tau dan bakal tanyain masalah ini. Ravi lalu berdiri di depan Nurani. Mereka saling ngeliatin.
“Jawab, Rav,”
Ravi menghela nafas dan ia pun cuman bisa nganggukin kepalanya sebagai jawaban. Nurani langsung mundur selangkah sambil ngeliatin Ravi dengan tatapan nggak percaya.
“Kenapa nggak ngomong dari awal?”
“Ravi nggak mungkin jujur sama Rani. Rani pasti benci dan nggak mau deket lagi sama Ravi,”
Mereka terdiam.
“Rani mau, Ravi berhenti. Nggak usah demi Rani, tapi demi Ravi sendiri. Ravi bisa kan?”
Ravi ngangukin kepalanya. “Ravi bakal berusaha berhenti, demi Ravi sendiri juga Rani,”

Hari-hari Nurani sekarang jadi nggak begitu nyenengin. Walaupun ia pengen banget Ravi berhenti, tapi kadang ia pesimis. Ia juga nggak yakin sama hubungannya sama Ravi. Apalagi sekarang ia harus backstreet dari Bundanya. Ia pun harus pinter-pinter alasan kalo mau keluar sama Ravi.
Suatu malam, Ravi ngajakin ketemuan. Mereka akhirnya jalan kaki menyusuri jalanan yang letaknya lebih tinggi dari jalanan depan rumah mereka. Jalanan di depan rumah mereka ada dua. Yang satu tepat di depan rumah, dan yang satunya letaknya lebih tinggi dan menghubungkan ke ujung daerah rumah mereka yang lebih masuk ke dalam. Daerah rumah mereka letaknya agak keluar, dekat jalan raya.
“Ravi mau ngomong, tapi Rani jangan marah ya,”
“Mau ngomong apa?”
“Sekarang ini, Ravi lagi teler,”
Nurani terdiam. Ia tetep ngeliatin jalan yang ia lalui.
“Katanya mau berhenti?”
“Ravi lagi berusaha. Tapi emang susah banget, temen-temen Ravi selalu dateng ke rumah dan ngajakin kumpul yang ujung-ujungnya pesta itu. Tapi Ravi bakal lebih berusaha,”
“Ravi teler tapi masih bisa ngomong begini ya. Hebat! Masih ada kesadaran,”
Ravi tersenyum kecut. “Kasih Ravi kesempatan ya,”
“Selama ini kan Rani selalu ngasih kesempatan,”
“Nggak marah kan?”
“Justru Rani seneng, Ravi udah mau jujur sama Rani,”
Mereka lalu balik ke rumah. Jalanan di situ agak gelap karena belum ada lampu jalan. Pas udah mau nyampe rumah, Ravi nyentuh tangan Nurani. Nurani kaget dan reflek ngeliatin Ravi. Ravi lalu deketin mukanya ke muka Nurani, pengen nyium bibir Nurani. Tapi Nurani langsung melengos. Ia nggak mau dicium Ravi.

Bulan Ramadhan tiba. Ini pertama kalinya Nurani puasa di Jakarta. Pulang sholat tarawih atau pun sholat Subuh, Nurani selalu bareng Ravi. Nurani sedikit lega, karena ada perubahan dari Ravi. Satu minggu sebelum Lebaran, Nurani pamit sama Deva kalo mau mudik ke Semarang. Ia nitipin surat buat Ravi karena sorenya ia langsung berangkat. Sementara Ravi lagi pergi.
Paginya, Nurani udah ngelakuin aktivitas di kota kesayangannya – Semarang. Ia langsung nyusun rencana mau ke rumah temen-temen SMP-nya. Selama di Semarang, Nurani seolah ‘hidup lagi’ setelah lama jadi ‘zombie’. Ia bener-bener ngenikmatin waktunya yang terbatas di Semarang.
Setelah Lebaran lewat dua hari, Nurani harus balik lagi ke Jakarta. Masih berat buat Nurani ninggalin Semarang, tapi mau gimana lagi? Sekolahnya udah nunggu. Setelah sampai di Jakarta, Nurani nggak ngeliat Ravi. Mungkin masih di kampung, pikir Nurani. Tapi udah hampir tiga hari, Ravi nggak pernah keliatan.
“Ravi ke mana sih, Va?” tanya Nurani penasaran.
Ada raut wajah sedih di muka Deva. Nurani tambah penasaran.
“Pas loe di Semarang, Mas Ravi ada masalah sama si Ujang tukang parkir di tikungan sana. Kayaknya waktu itu dia abis make deh, kayak lagi teler gitu. Mereka berantem di tikungan. Mas Ravi marah, terus dia balik ke rumah ngambil golok. Untung ada yang misahin. Anaknya yang punya warung situ kan polisi, sampe mau dijeblosin ke penjara Mas Ravi-nya,”
“Emang permasalahannya apaan sampe segitu parahnya?”
“Kayaknya si Ujang dulu yang mulai. Tikungan situ kan sering macet, Ran. Pas lagi macet, Mas Ravi kan nyempil-nyempil naik motornya, nyari jalan biar cepet sampe rumah. Eh, si Ujangnya ngehalangin gitu. Tau sendiri kan, orang lagi teler gimana,”
“Terus sekarang dia di mana?”
“Kayaknya sih, dimasukin ke ponpes. Gua juga nggak begitu tau. Ortunya nunggu loe tuh, mau ngomong sesuatu ke loe,”
Nurani lalu ke rumah Ravi buat yang pertama kalinya. Nurani nggak pernah maen ke rumah Ravi sekali pun. Ia lebih sering numpang pacaran di rumah Deva. Orang tuanya Ravi lalu ngasih sesuatu ke Nurani.
“Ini dari Ravi. Sekarang Ravi nggak di Jakarta lagi, dia di tempat yang aman. Ravi juga minta maaf karena nggak sempet pamit ke kamu,” kata Ibunya Ravi sambil ngasih surat.
“Di mana, Tan?” tanya Nurani bingung sambil nerima surat itu.
Ibunya Ravi cuman senyum. Nurani lalu pamit dan buru-buru pulang buat ngebaca surat dari Ravi. Sampe di rumah, ia langsung masuk kamar dan mengunci pintunya.
Dear Rani,
Ravi minta maaf ya, karena nggak sempet pamit sama Rani. Mungkin Rani bingung karena Ravi udah nggak di Jakarta lagi. Waktu Rani di Semarang, Ravi ada masalah. Ravi lalu pergi ke suatu tempat yang aman. Mungkin kita harus komunikasi pake surat. Nomor hape Ravi juga udah Ravi ganti. Rani tenang aja, Ravi bakal pulang secepatnya. Ravi nerusin sekolah Ravi di sini. Kalo Rani emang sayang Ravi, Rani pasti nunggu Ravi pulang...
Nurani lalu ngemasukin surat itu di amplopnya lagi. Hubungannya sekarang ngegantung. Ia nggak tau, kapan Ravi bakal nulis surat lagi.
Minggu demi minggu berlalu. Nurani dan Ravi komunikasi lewat surat yang tukang posnya adalah orang tua Ravi sendiri. Pas hari Valentine, Ravi ngirim surat buat Nurani sekaligus ngasih hadiah. Hadiahnya adalah kaset OST Ada Apa Dengan Cinta?. Surat itu adalah surat terakhir dari Ravi. Tanpa kata putus, tanpa penjelasan, hubungan Nurani dan Ravi selesai gitu aja.

Rabu, 02 Maret 2011

Binar + Abel = Konyol

Pukul 19.00 di sekitar rumah Binar lagi mati lampu. Kebetulan saat itu Abel lagi main ke rumah Binar. Alhasil, mereka ngobrol di depan rumah Binar dengan beralaskan jalan aspal alias lesehan di jalan. Mereka lagi asyik ngobrolin masalah film. Binar yang siangnya nonton bareng sekelas di kelasnya, semangat nyeritain film The Last Samurai yang tadi siang ditontonnya. Binar begitu antusias nyeritain detil film yang ia tonton. Begitu juga sebaliknya, Abel begitu antusias dengerin cerita Binar.
“Bagus banget lho, film-nya! Gua jadi pengen nonton lagi! Di Ezy ada nggak ya?” kata Binar sambil membenarkan posisi duduknya.
“Ada lah... Coba aja cari. Emang ceritanya tentang apaan sih?” tanya Abel.
“Dari judulnya aja udah keliatan, masa loe nggak bisa nebak sih?”
“Kata pepatah, ‘don’t judge the book from its cover’. Judul belum tentu ngegambarin apa isi bukunya,”
“Belagu banget sih! Emang di fakultas loe ngebahas masalah sastra ya? Loe kan anak teknik! Lagian ini film, bukan buku!” kata Binar sewot.
“Biarpun gua anak teknik, masalah sastra mah gua nggak bego-bego amat!”
“Kalo pun emang harus amat, gua ikhlas kok!”
“Loe seneng ya kalo gua menderita! Udah ceritain, film-nya kayak gimana!”
Binar lalu nyeritain sinopsis dari film The Last Samurai.
“Padahal tuh Bel, bapak itu udah ngelakuin harakiri lho! Eh, kepalanya masih dipenggal!” kata Binar menggebu-gebu sambil mraktekin orang lagi menggal kepala.
Saat Binar mraktekin adegan itu, sesuatu terjadi. Ada suara aneh di sela-sela obrolan mereka.
“Suara apaan tuh?!” tanya Abel kaget disertai mimik muka yang penasaran sekaligus ngebuat orang jadi ketawa saat ngelihat mukanya.
Sorry, Bel, kelepasan...” kata Binar sambil nyengir.
“Wew! Loe kentut ya?! Sobatan dari SMP, baru sekarang gua denger suara kentut loe yang ‘merdu’ itu!” kata Abel dengan tampang shock sambil memencet hidungnya.
“Yah, kan gua udah bilang sorry, Bel... Gua nggak sengaja...” kata Binar dengan nada malu-malu kucing.
“Ngerusak suasana aja loe!”
Untung saat itu mati lampu, jadi Abel nggak bisa ngeliat raut muka Binar. Pasti Abel langsung ketawa ngakak ngeliat muka Binar yang merah kaya kepiting rebus karena malu (tapi enakan udang rebus). Sejak accident itu, Binar sering diledekin Abel. Binar cuman bisa pasrah dan kadang minta Abel udahan ngeledeknya. Itu adalah kekonyolan Binar yang pertama di depan Abel.

Pulang kuliah, Abel ke kampus Binar buat ngajakin ke Mal Ciputra. Karena Binar juga malas langsung balik ke rumah, Binar pun ayo aja. Setelah Vano ngasih izin, Binar dan Abel langsung ke Mal Ciputra. Vano adalah pacar Binar sejak kelulusan SMA Binar. Kebetulan saat itu Binar lagi pengen beli t-shirt Nevada yang ia incar satu minggu yang lalu. Abel markirin si Tengil alias motor Supra-nya di lantai 5. Mereka lalu turun dari motor dan menuju lift. Tapi saat itu lift penuh dan Binar enggan ngantri.
“Nggak pake lift aja?” tanya Abel.
“Pake tangga aja. Lagian kan turun, jadi nggak capek,” kata Binar sambil menggeret Abel.
Abel ngikutin Binar menuju tangga lalu ngedahuluin Binar menuruni tangga sedangkan Binar di belakangnya. Abel lagi sibuk chatting via mig33, jadi ia nggak begitu ngeh sama sekitarnya.
“Bel, gua cocok nggak sih pake jaket ini?” tanya Binar sambil menuruni tangga.
Abel menengok sekilas ke arah Binar lalu sibuk lagi sama handphone-nya. “Cocok kok!” jawab Abel.
Saat itu, Binar make jaket hoodie Chicgirl yang panjangnya sampe sepinggul dan berwarna merah marun.
“Yakin loe?” tanya Binar lagi.
“Hm...” jawab Abel hanya dengan deheman aja.
“Tapi kata Vano kalo gua pake jaket....”
Binar nggak ngelanjutin ceritanya karena keburu kepleset dan terjatuh sampai tiga anak tangga. Abel yang tadinya sibuk dengan handphone-nya ngerasa aneh karena suara Binar menghilang dan ngerasa penasaran sama ending cerita Binar. Ia pun menengok ke arah Binar tapi ternyata Binar nggak ada dan kaget mendapati Binar terduduk di anak tangga.
“Kenapa loe?” tanya Abel dengan santai dan amat sangat polosnya.
“Jatuh...” jawab Binar dengan santai dan amat sangat polosnya (juga) sambil meringis kesakitan.
Abel langsung ketawa ngakak ngedenger jawaban Binar dan karena ngeliat mimik muka Binar. “Eh, minggir dulu, ada yang mau lewat tuh...” kata Abel sambil terus ketawa.
Binar menggeser sedikit posisi ia terduduk. Binar meringis sambil megangin pantatnya.
“Aduh, Bel... Pantat gua sakit nih!” kata Binar.
“Kok bisa jatuh sih?” tanya Abel lalu memasukkan handphone­-nya ke saku jaketnya.
“Kepleset tadi...” jawab Binar masih meringis.
“Eh, tadi loe mau cerita apaan?” tanya Abel.
Binar jadi dongkol sama Abel. Bukannya langsung ditolongin malah ngajakin cerita!
“Heh! Gua tuh lagi kesakitan! Bukannya nolongin gua malah ngajakin cerita! Lagian loe dari tadi ngapain sih! Sibuk banget sama hape loe!” omel Binar.
“Iya-iya, sini gua tolongin,” kata Abel sambil ngulurin tangannya dan nahan ketawa.
“Oya, satu lagi, pertanyaan loe tadi nggak penting! Udah tau gua jatuh loe malah tanya, dan anehnya gua ngejawab pertanyaan tolol loe itu!” kata Binar sambil menuruni tangga pelan-pelan.
Abel ketawa makin ngakak sambil terus megangin Binar.
“Hoooppp...! Ketawa lagi gua tonjok!”
Akhirnya Abel hanya cengir-cengir. Saat mau masuk mal, Abel masih nahan ketawa. Binar menatap Abel dengan tatapan memohon biar Abel nggak ketawa lagi. Abel yang ngeliat muka Binar yang melas malah ngakak lagi.
“Udah ah Bel... Jangan diketawain mulu dong...” kata Binar dengan nada memelas dan sedikit manja.

Tengah malam, Binar dan Abel sering teleponan. Lumayan, tarifnya murah. Sejam cuman 800-an perak! Mereka bisa ngobrol panjang lebar. Mulai dari film, makanan, minuman, cewek, cowok, sampe ngomongin artis segala! Biasanya mereka juga ngomentarin hal-hal yang nggak penting dan comment mereka ngegeliin banget. Misalnya, saat Binar dan Abel ngeliat cewek yang putih cuman mukanya. Tadinya Binar cuman comment biasa aja. Yang bikin suasana jadi konyol, Abel ngomentari cewek itu, ‘Ouh, dia kan pake bedaknya di baskom yang isinya bedak, jadi mukanya tinggal ditenggelamin di baskom. Abis itu dikipasi-anginin biar rata’. Binar dan Abel ketawa tertahan karena udah larut malam, takut ngeganggu yang lain.
“Bi...” panggil Abel saat teleponan.
“Hm?” jawab Binar.
“Setiap kita hang-out ada aja kekonyolan-kekonyolan yang loe bikin,” kata Abel.
“Loe kira gua sengaja?” kata Binar sewot.
“Ya nggak gitu juga... Maksud gua, loe selalu ngelakuin hal-hal konyol. Kayak kepleset di tangga parkiran, kentut, salah ngeliat motor, ngejatuhin kepala boneka jerapah, sampe ada orang mau masuk lift malah loe pencet tombol close. Parah...” kata Abel dengan nada ngeledek.
“Ya, pokoknya gua nggak sengaja ngelakuin kekonyolon itu dan itu unpredictable! Tapi kalo gua pikir-pikir, iya juga ya... Kok gua mulu yang selalu konyol di depan loe. Eh, episode salah ngeliat motor yang mana sih?” tanya Binar penasaran.
“Masa lupa sih? Itu lho, yang loe mau ambil barang di bawah jok motor loe tapi malah loe jalan keluar. Jelas-jelas motor loe ada di halaman rumah! Padahal yang di luar kan motor gua,”
“Oo, iya! Abis gua ingetnya loe masih parkirin motor gua di luar,”
Binar tertawa nginget semua hal konyol yang ada saat hang-out bareng Abel.
“Tapi Bel, gua bener-bener nggak ngeh kalo tombol yang gua pencet waktu di lift tuh tombol close. Abisnya gua nggak ngeliat jelas sih...”
“Emang loe nggak bisa bedain mana simbol pintu lift kebuka sama ketutup? Gua sama Danish waktu itu kaget ngeliat loe yang dengan amat sangat polosnya mencet tuh tombol. Dalam hati gua, ‘nih anak sarap kali ya, udah tau orang mau masuk lift malah mencet tombol close’. Bener-bener Afgan loe!”
“Hah? Afgan?”
“Sadis,”
Binar diam bentar sambil mikir. “Oo, iya ya... Kan Afgan yang nyanyi lagu Sadis,”
“Dasar lemot! Udah lemot, konyol pula!”

Liburan kuliah, Binar minta Abel nemenin belanja di Matahari department store. Setelah Binar udah beli sandal Fladeo, mereka langsung pulang. Dari dalam mal ke parkiran, ada lima anak yang harus dilewatin. Mereka berjalan dengan wajah kelelahan, terutama Abel – yang belum libur – karena ia dari kampus langsung nemenin Binar belanja. Mereka melewati anak tangga itu. Saat anak tangga ke-empat, salah satu dari mereka kesandung dan hampir jatuh. Dan kali ini yang melakukan kekonyolan adalah..... Abel! Abel hampir jatuh! Akhirnya, Binar ngeliat kekonyolan Abel yang pertama.
Binar dan Abel ngejalanin persahabatan mereka dengan kekonyolan-kekonyolan yang nggak terduga dan selalu jadi bahan ledekan di saat mereka lagi hang-out dan bercanda bareng teman yang lain. Bahkan mereka nggak segan-segan ketawa lepas dan bertingkah aneh di tempat umum. Siapa pun yang ngeliat mereka kadang berpikiran kalo mereka nggak sekedar sobatan.
“Siapa lagi ya yang ketipu gara-gara persahabatan kita?” tanya Binar.
“Biarin sodara-sodara loe menggonggong...” jawab Abel santai.
Binar diam bentar lalu menatap Abel gemas. “AABBBBEEELLLL... LOE PIKIR SODARA GUA ANJING???” teriak Binar sambil nyekik Abel dan menguncang-guncangkan badannya.
Abel hanya ketawa geli sambil ngelepasin cekikan Binar dan ngacak-acak rambut Binar lalu merangkulnya. Mereka tertawa lepas di antara tatapan heran orang-orang di sekelilingnya.

Cinta TK - SMU

Entah harus me-rewind berapa tahun untuk mengenang semua ini
Kisah anak ingusan yang tumbuh menjadi remaja
Anak yang masih cuek dengan kata “cinta”
Bahkan mungkin belum mengenal kata itu
Yang masih belum bisa meresponnya
Berapa tahun terpisah, anak ingusan itu telah menjadi remaja
Yang sudah mengenal kata “cinta” walau hanya sekadarnya
Pertemanan semasa kecil berubah menjadi cinta
Banyak perubahan di dalam dirinya
Berbeda saat ia masih ingusan dulu
Kisah ini masih tersimpan rapi
Meski ada kerikil dan tragis di dalamnya
Tapi tetap menjadi suatu kisah yang menarik
Mengenal pribadi yang di luar perkiraan
Drugs telah menghancurkan segalanya
Surat demi surat hanya penghibur jasmani
Aku tersenyum saat membacanya, tapi aku menangis di nurani
Tak ada rasa benci buatmu
Hanya rasa senang karena pernah menjadi seseorang dalam hidupmu
Walau ternyata aku yang kedua